SIDOARJO, reporter.web.id- Muhammad Wildan, warga Sidoarjo, menghidupkan kembali tradisi leluhur di malam 1 Suro yang magis. Proses jamasan keris dan benda pusaka dilakukan dengan khusyuk di rumahnya di Perum Gebang Raya.

"Jamasan ini dilakukan di bulan Suro atau Asyura. Jadi bulan ini adalah bulan yang baik untuk merefleksi, karena banyak kejadian besar dalam islam," kata Wildan.

Salah satu peristiwa besar yang terjadi adalah terbunuhnya cucu Nabi Muhammad, yaitu Husain. Sehingga ada anjuran untuk tidak menggelar kegiaran bersifat senang-senang.

Tak sekedar mencuci, Wildan menilai kegiatan itu dilakukan untuk melestarikan warisan budaya yang sarat makna. Begini 3 alasan yang diungkapkannya:

1. Simbol Pembersihan Diri

Lebih dari sekadar membersihkan benda pusaka, jamasan bagi Wildan merupakan simbol pembersihan diri. Diiringi air kembang setaman dan jeruk nipis, dia merenungkan kembali perjalanan hidupnya, mengakui kesalahannya, dan memohon ampunan. Tradisi ini menjadi momen introspeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

2. Pelestarian Budaya Bangsa

Namun, makna jamasan tak hanya berhenti di situ. Bagi Wildan, ritual ini juga merupakan wujud penghormatan kepada leluhur dan pelestarian budaya bangsa. Keris pusaka yang telah berusia berabad-abad, seperti Pusaka Katga dari tahun 280 Masehi, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan nilai-nilai luhur yang diwariskan.

Lebih dari sekadar benda pusaka, keris melambangkan identitas dan kekayaan budaya bangsa. Melalui jamasan, Wildan berusaha menjaga warisan ini agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi penerus.

3. Bukan Ritual Mistis

Tradisi jamasan, menurut Wildan, bukan sekadar ritual mistis. Dia menekankan bahwa inti dari tradisi ini adalah rasa syukur, penghargaan, dan pelestarian budaya. Jamasan menjadi wadah untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan memperkuat jati diri bangsa.

Menurut dia, di tengah gempuran modernisasi, tradisi jamasan keris dan benda pusaka menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan budaya leluhur. Ritual ini bukan hanya tentang membersihkan benda pusaka, tetapi juga membersihkan diri, melestarikan budaya, dan memperkuat identitas bangsa.

Tradisi jamasan keris di malam Satu Suro bukan sekadar ritual mistis, tetapi merupakan perpaduan antara pembersihan diri, penghormatan budaya, dan pelestarian warisan leluhur. Tradisi ini menjadi pengingat penting untuk selalu menjaga nilai-nilai luhur dan identitas bangsa di tengah arus modernisasi. (red.J)