Jakarta, reporter.web.id - Bangunan-bangunan rumah di bantaran Kali Ciliwung yang berada di RW 07, Kelurahan Rawajati, Jakarta Selatan, sudah rata dengan tanah. Puing-puing batu bata yang tersisa itu kini menjadi saksi bisu bahwa dahulu pernah berdiri ratusan rumah warga.
Kini ratusan rumah warga tersebut tinggal kenangan. Tumpukan batu bata yang masih tersisa sudah diselimuti lumpur kering dan sampah plastik bekas luapan air sungai. Tak ada lagi bangunan yang menjadi pelindung dari panas terik matahari Jakarta.

Namun, banyak warga malah bersyukur, rumah yang ditinggali puluhan tahun itu sudah tak berwujud lagi. Bahkan mereka tidak sakit hati lahan kediamannya ikut terdampak proyek normalisasi Kali Ciliwung ini.

Seperti dirasakan Siti Aminah (55), Ketua RT 003/RW 07, yang rumahnya tepat di sebelah proyek normalisasi Kali Ciliwung. Menurutnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendengar masukan dan kritik warga, sehingga proses pembebasan lahan untuk normalisasi itu 

Pembebasan lahan tersebut menjadi harapan warga agar terbebas dari langganan banjir. Warga pinggiran Kali Ciliwung di kawasan Rawajati pun mendapat ganti rugi proyek normalisasi, untuk bisa pindah ke rumah yang lebih layak.

"Saya ada rumah petak di belakang (lokasi yang terkena proyek normalisasi). Itu kalau kita jual normal paling enggak sampai Rp 10 juta, karena di sini kan sering banjir. Tapi, kemarin kita dapat ganti Rp 326 juta, rumah petak sekitar 48 meter persegilah," kata Siti saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Karena itu, Siti bersyukur. Berkat proyek normalisasi Kali Ciliwung ini, alih-alih ganti rugi, warga malah mendapatkan ganti untung. Begitu pula mereka yang rumahnya tidak tergusur, tapi berada sangat dekat dengan proyek, memperoleh sejumlah uang, meski tidak banyak.

"Kalau untuk mereka yang keluar dari sini (tergusur dan harus pindah), Alhamdulillah ada yang bisa pindah kontrakan, ada yang bisa berangkat haji. Pokoknya justru bersyukur dengan adanya gusuran ini," jelas Siti.

Ia menambahkan, proyek normalisasi Kali Ciliwung secara tidak langsung dapat meningkatkan nilai jual tanah dan bangunan di kawasan itu. Dia berharap, normalisasi ini bisa cepat selesai dan warga bisa terbebas dari banjir.

Harapan Warga Terbebas Banjir
Senada dengan Siti, Supriyati (65) juga warga yang lahannya terdampak normalisasi Sungai Ciliwung di RW 07 Rawajati. Ia mengaku mendapat uang ganti untung atas hunian miliknya.

"Rp 500 juta lebih, karena aku enggak luas. Sudah (sepadan), bisa beli rumah lagi," ucapnya.

Supriyati mengungkapkan, usai mendapat ganti untung tersebut, dirinya mencari hunian baru di wilayah Rawajati yang terbebas dari banjir. Sebab ia sudah tinggal di kawasan tersebut sejak 1978.

"Yang penting, udah beli rumah, masih di sekitar sini. Karena kalau di tempat lain, ke mana-mana jauh. Mending di sini dekat, karena banjir enggak tiap hari," tuturnya.

Warga lainnya, Leha (44), pun mengutarakan harapan yang sama dengan Situ dan Supriyati. Dia berharap, proyek normalisasi Ciliwung dapat mengurangi potensi banjir kiriman dari Bogor, Jawa Barat, yang mengaliri kawasan Rawajati.

"Ya, itu mintanya dibikin tanggul, biar mudah-mudahan enggak banjir lagi gitu," ujarnya.(red.J)