reporter.web.id - Aktivitas tambang pasir, batu dan kerikil di Palu, Sulawesi Tengah untuk bahan material proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur diklaim membuat warga menderita penyakit pernapasan dan tangkapan ikan di perairan sekitar kini jauh berkurang. Penambangan bebatuan dan pasir untuk kebutuhan IKN di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur – yang hanya dipisahkan oleh Selat Makassar – menjamur di sepanjang pesisir Kota Palu hingga Kabupaten Donggala di Sulawesi Tengah. 

Sepanjang garis pantai Teluk Palu, kini ditemui banyak bukit gundul dan terpangkas sebagian akibat pengerukan yang masif. Aktivitas itu mengakibatkan polusi udara di wilayah lingkar tambang, salah satunya Kelurahan Buluri. Debu hitam yang berterangan di permukiman warga tidak hanya mengotori bagian luar rumah, tapi juga bagian dalam rumah Bidaya - salah satu penduduk Buluri yang terdampak aktivitas tambang.

Lantai dan perabotan di dalam rumah Bidaya terkontaminasi debu. Intensitas debu yang tinggi juga memaksa Bidaya dan penduduk Buluri lainnya menghirup udara yang tidak sehat.

Imbasnya, banyak warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). 

“Termasuk cucu dan anak saya terserang penyakit [ISPA].” ujar Bidaya kepada wartawan di Palu, M Taufan, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, pada awal Juni silam. 

Tangisan Bidaya seketika pecah saat menceritakan awal mula cucunya terkena ISPA. Sekitar dua bulan lalu, saat cucunya baru berusia dua minggu, tiba-tiba bocah laki-laki itu mengalami gejala demam, bersin dan batuk. 

Tenggorokannya juga berlendir. Anak Bidaya yang khawatir dengan kondisi balitanya, langsung membawanya ke puskesmas terdekat. 

Anak itu langsung menjalani pemeriksaan. Merujuk pada diagnosis dokter, cucu Bidaya divonis menderita ISPA.

“Setelah itu dikasih obat, tapi belum lama ini cucu saya sakit lagi. Dan sampai sekarang tidurnya tidak nyenyak. Kalau malam masih biasa batuk,” ungkapnya. 

Rumah Bidaya yang berada di pinggir jalan Trans Sulawesi Palu-Donggala berjarak kurang lebih 500 meter dari rumah anaknya yang mengarah ke pegunungan batu – tempat material pasir, batu dan kerikil ditambang. Tiap kali mengunjungi anak dan cucunya, Bidaya selalu mengenakan masker dua lapis agar tidak menghidup debu tebal selama perjalanan. 

Rumah anak Bidaya berada dalam wilayah izin usaha pertambangan salah satu perusahaan di Buluri. Mesin pemecah batu milik perusahaan hanya berjarak sekitar 70 meter dari halaman rumah anaknya. 

“Di depan sana itu mesin pemecah batu, dekat sekali dari rumah. Makanya debunya banyak kemari. Karena debu ini semua sudah cucu saya terkena ISPA,” ujar Bidaya ketika ditemui di rumah anaknya.

Terlihat rumah, pagar, hingga tumbuhan di sekitar permukiman warga sekitar dipenuhi debu. 

Sementara polusi udara yang parah membuat udara di lingkungan rumah tersebut tak nyaman untuk dihirup. Kala itu siang terik, suhu panas terasa menyengat ke kulit. Meski angin berembus kencang, terpaan angin tak mampu menghalau sengatan Matahari di ubun-ubun kepala. 

Bidaya adalah satu dari warga Buluri yang hingga saat ini terus berjuang menuntut perusahaan tambang bebatuan (Galian C) yang beroperasi memproduksi pasir, batu, dan kerikil (sirtukil) di lingkungan mereka untuk menghentikan aktivitasnya. 

Pada akhir Mei silam, Bidaya dan sejumlah warga Buluri yang lain menggelar unjuk rasa memprotes aktivitas tambang yang kian masif memasok bebatuan ke IKN dan diklaim berdampak buruk bagi lingkungan, kesehatan dan ekonomi warga sekitar.(red.J)