Jakarta, reporter.com - Gempa bumi dengan M 7,8 mengguncang Turki dan Suriah pada Senin (6/2), pukul 4 dini hari. Gempa tersebut terjadi 23 kilometer timur Nurdagi, di provinsi Gaziantep Turki, pada kedalaman 24,1 kilometer.

Sejauh ini korban jiwa akibat gempa bumi tersebut mencapai 28 ribu jiwa. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memaparkan ada 24.617 korban lebih di negara itu, sedangkan di Suriah jumlahnya menembus 3.500 korban.

Sejumlah teori konspirasi mengaitkan gempa Turki dengan High-frequency Active Auroral Research (HAARP) milik Amerika Serikat (AS). Program ini merupakan proyek bersama Angkatan Udara AS dan Angkatan Laut AS pada 1993 dengan kendali dialihkan ke University of Alaska Fairbanks (UAF) pada 2015.

Salah satu postingan di Facebook mengungkap bahwa fasilitas riset HAARP di Alaska bisa mengendalikan cuaca Bumi. Caranya dengan menggunakan partikel logam bergetar di atmosfer dengan gelombang radio, demikian dikutip dari Canberra Times.

Postingan itu menyebut pesawat digunakan untuk menebar partikel di atmosfer, sebelum fasilitas HAARP mentransmisikan gelombang radio ke partikel. Dengan demikian mereka dapat mengubah cuaca.

Namun, para ahli mengatakan kepada AAP FactCheck bahwa HAARP tidak berdampak pada troposfer atau stratosfer tempat pesawat terbang dan cuaca terjadi. Disebutkan bahwa fitur utama HAARP adalah pemancar frekuensi tinggi yang digunakan untuk mempelajari ionosfer, bagian dari atmosfer atas bumi.

"Transmisi radio HF (Frekuensi Tinggi) berkaitan dengan interaksi dengan partikel terionisasi - elektron, di ionosfer, di atas ketinggian 100 km. Cuaca di permukaan tanah didorong oleh efek geofisika, sebagian besar pemanasan matahari, ke atmosfer netral yang jauh lebih dekat ke tanah," kata Profesor Fred Menk, seorang ahli ionosfer bumi dan magnetosfer dari University of Newcastle, menggambarkan klaim Facebook tersebut hanya omong kosong, dikutip Minggu (12/2/2023).

"Ada sejumlah besar pemancar HF secara global yang mengarahkan sinyal daya menengah atau tinggi ke ionosfer. Ini digunakan untuk penyiaran radio jarak jauh dan tujuan lain seperti pengawasan (radar) dan memantau keadaan ionosfer," tambahnya.

(red.bs)