JAKARTA, reporter.com - Koordinator Bidang Seni dan Budaya Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) DKI Jakarta, Andre Hutama, mengatakan seni dan budaya harus ikut serta dalam perkembangan dunia digital dengan menampilkannya melalui platform digital yang ada.

"Saya rasa sudah harus, digital itu kan suatu bentuk komunikasi di mana sudah tidak ada sekat-sekat lagi yang menutupi," kata Andre dalam Podcast Aksi Nyata Perindo bertajuk 'Apakah Semua Budaya Masih Sakral di Era Modern dan Digital', Sabtu (18/2/2023).

Dengan mengemasnya di sarana yang sudah memasuki era digital khususnya media sosial, maka akan semakin mudah masyarakat untuk mengaksesnya. Dengan begitu, seni budaya yang ada di Indonesia yang memiliki beraneka ragam akan semakin dikenal masyarakat.

"Kapan pun di mana pun kita bisa akses informasi melalui mobile phone kita," ujarnya.

Andre melanjutkan, ia mengimbau kepada kreator budaya yang akan memuat seni dan budaya ke platform digital perlu mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Hal itu demi tidak terjadi missinformasi tentang seni dan budaya tersebut.

"Akan lebih baik kalau kita sudah mempersiapkan segala hal yang bersifat hal-hal tentang informasi kebudayaan itu di dalam sana," ucapnya.

"Kalau perlu kita memang kalau dari kami sendiri sebagai koordinator seni dan budaya di Perhimpunan Inti kita mempersiapkan yang namanya perpustakaan digital," sambungnya.

Menurutnya, dengan adanya perpustakaan digital tidak perlu memberitahukan kepada satu per satu orang yang menginginkan informasi budaya. Mereka yang ingin mengetahui sesuatu tinggal membuka perpustakaan digital yang dimaksud.

"Orang lebih mudah lebih senang mendapatkan informasi secara audio visual, kita buatlah video-video tentang informasi budaya, sejarahnya, bagaimana ini terjadi mah itu dalam perpustakaan digital misalkan dalam video di YouTube atau di Tiktok," pungkasnya.

(red.bs)