Jakarta, reporter.com - Spesialis anak di Rumah Sakit Permata Depok, Agnes Tri Harjaningrum, mengatakan cacing laut atau nyale yang banyak dikonsumsi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) dapat menjadi alternatif pangan lokal yang dapat mencegah anak stunting.


“Sebetulnya ada di beberapa daerah. Kalau memang itu lebih murah dan memang diteliti mengandung banyak protein, itu bisa dimakan,” kata Agnes.


Ia menuturkan pemberian protein hewani pada anak bisa didapat dari berbagai panganan lokal dengan harga yang lebih terjangkau, salah satunya adalah nyale. Meski digunakan sebagai pengganti protein hewani dari telur atau ikan, cara memasaknya harus tetap diperhatikan untuk mencegah terjadinya alergi atau infeksi dari virus yang terbawa. Dengan demikian, anak bisa terhindar dari stunting yang salah satu faktornya adalah infeksi berulang.


“Saya juga pernah dengar di Papua ada yang mirip-mirip seperti itu. Sagu juga bisa asal aman. Jangan lupa cara masaknya yang benar, nanti kalau alergi bahaya,” tambahnya.


Agnes melanjutkan makanan lain yang dapat dijadikan alternatif jika tidak bisa memberikan daging adalah telur, ikan kembung, susu UHT, atau hati ayam. Selaras dengan program pemerintah yang kini menggaungkan pencegahan stunting, ia menekankan protein hewani penting untuk melindungi anak dari stunting sebab stunting paling banyak terjadi di usia 3 bulan hingga 2 tahun.


“Ini selain karena kekurangan gizi kronis, ibu tidak membawa anak ke posyandu. Jadi tidak dipantau tumbuh kembangnya. Di buku KIA ada grafik, jadi ada yang namanya weight faltering. Kalau berat badannya tidak naik 2-3 bulan berturut-turut itu harus diintervensi, cara efektif untuk mencegah stunting,” ujarnya.


Jaga kebersihan lingkungan

Hal lain yang ia sebutkan untuk menunjang proteksi anak dari stunting adalah menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, menjalankan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), melanjutkan ASI eksklusif sampai anak berusia 2 tahun agar tidak mudah sakit. Agnes mengingatkan selama 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) semua orang tua harus terus memantau tumbuh kembang anak dengan jeli. Berat badan anak yang terus menurun dikhawatirkan akan menyebabkan anak stunting dan mempengaruhi produktivitasnya.


“Stunting itu malnutrisi kronis, jadi hubungannya sama gizi yang berkepanjangan, kata kuncinya di sana, dan akibat dari infeksi berulang. Itu yang membuat tubuhnya pendek, IQ-nya turun, sakit-sakitan, ke depannya obesitas, juga terkena penyakit metabolik. Kalau (pendek) karena genetik tidak stunting,” paparnya.


Sebelumnya, ada sejumlah pemberitaan mengenai masyarakat NTB menggunakan cacing laut yang didapat secara melimpah dari Festival Bau Nyale untuk memenuhi asupan protein hewani pada anak. Dokter Spesialis Gizi Klinik Alia Hospital Jakarta, Nurul Ratna Mutu Manikam, mengatakan kandungan protein hewani pada cacing laut bisa mencapai 43,84 persen terhadap beratnya. Kandungan protein hewaninya bahkan lebih tinggi dibandingkan telur ayam, 12,2 persen, dan susu sapi sekitar 3,5 persen.


(red.bs)