Breaking News

Ciri Khas Sarung Turun Temurun Suku Tengger, di Bromo.

 



JATIM, Reporter.com (15/12/2022)  - Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo banyak dikenal karena toleransi dan kerukunannya. Mereka juga punya tradisi dan sejumlah kekhasan. Salah satunya, sarung yang selalu digunakan warga Tengger. Tidak sekadar untuk mengusir dingin. Sarung juga jadi simbol tersendiri bagi perempuan di sana.

Suku Tengger di kawasan Bromo sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit, yakni pada abad ke-16. Mereka memiliki beberapa tradisi yang terpelihara sampai saat ini. Seperti Upacara Yadnya Kasada, Ritual Meminta Hujan (Ojung), Hari Raya Masyarakat Tengger (Karo), dan masih banyak lagi.

Suku Tengger juga memiliki tata bahasa serta sistem kalender sendiri. Tata bahasa Suku Tengger menggunakan bahasa Kawi dan beberapa kosakata bahasa Jawa Kuno yang sudah jarang digunakan masyarakat Jawa. Sistem kalender Suku Tengger terdiri dari 12 bulan yang memiliki nama bulan berbeda dengan kalender pada umumnya.

Warga Tengger juga punya ciri khas khusus, yaitu menggunakan sarung. Penggunaan sarung ini cukup mencolok. Bahkan, menjadi pembeda atau tetenger apakah seseorang warga Suku Tengger atau bukan.

Sarung ini dipakai dengan cara diselempangkan. Baik itu wanita ataupun pria. Penggunaan sarung ini memilih beberapa manfaat.

Kepala Desa Ngadas Kastaman, 51, mengatakan, sarung digunakan untuk mengenali atau sebagai identitas Suku Tengger. “Jadi penggunaan sarung ini sudah ada sejak nenek moyang. Dan hal ini menjadi ciri khas warga Suku Tengger. Sehingga, ke mana-mana biasanya warga Suku Tengger tidak akan lepas dari sarungnya,” katanya.

Selain sebagai identitas, sarung juga berfungsi untuk menahan dingin. Maklum saja, kawasan Gunung Bromo memiliki ketinggian kurang lebih 2.329 meter di atas permukaan laut. Tak heran jika suhu di kawasan ini bisa mencapai minus 4 derajat.

“Dengan menggunakan sarung, maka dapat menghangatkan tubuh,” imbuhnya.

Sarung yang digunakan pun tak sembarangan. Bahannya dibuat dari katun, bahkan sutra asli. Sehingga, ketika cuaca dingin, kondisi sarung tetap hangat.

“Untuk membelinya bisa di mana saja. Bahkan, ada warga Suku Tengger yang merajut sarung sendiri. Namun, ada juga yang memasok. Biasanya dari Malang dan memang bahannya bagus,” imbuh Kastaman.

Lantaran dari bahan katun premium dan sutra, harganya pun terbilang mahal. Harga per sarungnya paling tidak Rp 200 ribu ke atas. Bahkan, bisa sampai tembus jutaan rupiah.

Yang juga penting, ada beberapa cara menggunakan sarung selain diselempangkan. Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menyebut, penggunaan sarung Suku Tengger dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Dan aturan yang sudah diterapkan itu berlaku dari para leluhur.

“Untuk penggunaan itu sudah diwariskan turun temurun. Jika dipakai sembarangan, maka bisa berdampak kurang baik. Namun, hal itu kembali pada kepercayaan,” imbuh lelaki 59 tahun, warga Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Penggunaan sarung bagi perempuan caranya dibuat kalem. Kalem di sini artinya ditali (dibuat simpul) antara ujung satu dan ujung lainnya. Kemudian seolah dibuat kemul (selimut).

Dan bagi perempuan juga ada beragam model yang masing-masing memiliki makna. Bagi seorang wanita yang masih belum menikah, maka tali atau simpulnya berada di belakang. Bagi perempuan yang belum menikah, namun sudah punya pasangan, maka simpulnya berada di samping kanan.

Lalu bagi perempuan yang sudah menikah, simpulnya ada di depan. Dan bagi perempuan yang telah menjanda, maka simpulnya berada di sebelah kiri.

Dengan model itu, maka pria yang hendak mendekati bisa mengerti. Apakah wanita yang didekati sudah punya pasangan atau belum. Sehingga, saling menghormati serta menghindari perselisihan atau menjaga kerukunan bersama.

“Begitu juga sebaliknya. Ketika sudah diketahui menjanda, maka pria yang memiliki tanggung jawab tidak sungkan untuk mendekatinya,” ucapnya.

Sementara penggunaan sarung bagi pria, dilakukan dengan cara di-krobong-kan. Artinya, sarung dimasukan. Bisa dimasukan dan dikalungkan di leher ataupun pundak. Yang penting di-krobong-kan.

“Untuk laki-laki, cara penggunaan sarung tidak ada aturan spesifik seperti wanita atau perempuan. Yang penting, dimasukan atau di-krobong-kan,” tandasnya. (hum.ry)

© Copyright 2022 - REPORTER.WEB.ID | Jaringan Berita Reporter Hari Ini