Iklan

REPORTER
Minggu, 27 Februari 2022, 06:54 WIB
Last Updated 2022-02-26T23:54:36Z
NASIONALRELIGIREPORTER

DPP Rabithah Alawiyah: Yaqut Harus Bertaubat, Istighfar dan Minta Maaf

Reporter.Web.Id, JAKARTA – Rabithah Alawiyah organisasi Islam yang menjadi wadah resmi para Habib se-Indonesia merespons pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Quomas terkait adzan. Pro kontra narasi soal adzan dan permisalan dengan suara anjing dinilai Rabithah Alawiyah telah menyakiti hati umat Muslim.

Rabithah Alawiyah menyampaikan mereka berprasangka pada prinsipnya ucapan Menag tersebut bukan diniatkan untuk menyakiti. Namun, karena pernyataan tersebut disampaikan pada ruang terbuka, maka setiap pihak memiliki interpretasi sendiri.  

Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Taufiq Bin Abdul Qadir Assegaf, mengeluarkan pernyataan resmi yang intinya meminta Menag meminta maaf kepada umat Muslim.

"Sekalipun kami yakin bahwa statement menteri agama tidak bermaksud untuk menyakiti hati siapa pun, tapi kami mengimbau beliau untuk segera bertaubat dan beristighfar, meminta maaf, serta kemudian berhati-hati agar tidak muncul lagi statement yang mengundang keriuhan yang tidak produktif," kata Habib Taufiq melalui siaran pers yang diterima Republika, Jumat (25/2/2022).

Habib Taufiq mengutip ayat Alquran yang menyebut menjadi kewajiban Muslim yang beriman untuk saling menasehati dalam kebaikan. Pernyataan Rabithah Alawiyah jadi sarana ikhtiar untuk saling menasehati dan memberi masukan demi kebaikan.

Habib Taufiq juga menjelaskan keistimewaan adzan. Menurutnya, adzan yang berisi kalimat dzikir punya banyak manfaat dalam kegiatan peribadatan maupun kegiatan keseharian.

"Islam menempatkan adzan dalam kedudukan tinggi. Dibacakan saat anak baru lahir, di telinga orang sedih, hingga kepada orang yang meninggal dunia. Di dalam adzan terdapat kalimat yang mengandung pelajaran yang amat berharga bagi yang merenungkannya," ujar Habib Taufiq.

Terkait usulan pengaturan volume adzan, Habib Taufiq juga memberikan sejumlah pandangannya. Menurutnya, pengaturan mesti dilakukan dalam kadar yang wajar.

"Jika terdapat non Muslim yang terganggu dengan suara adzan, maka itu bisa diatasi dengan menurunkan volume adzan namun dengan mempertimbangkan kewajaran, seperti di tempat yang mayoritas non Muslim atau di tempat yang harus jauh dari suara keras," kata Habib Taufiq.

Namun di lokasi yang mana lantunan suara keagamaan sudah menjadi budaya, pembatasan dinilai dapat menjadi kontra produktif. "Sama seperti Muslim yang hidup di mayoritas non Muslim hendaknya harus menyesuaikan diri," kata Habib Taufiq.

Sumber: Republika.co.id