Menko Luhut : Maksimalkan Pemanfaatan Aspal Buton Dan Kurangi Imgor Aspal Minyak

Header Menu

Menko Luhut : Maksimalkan Pemanfaatan Aspal Buton Dan Kurangi Imgor Aspal Minyak

Kamis, 05 November 2020
Loading...

 




Reporterweb | Marves-Jakarta,-Aspal Buton (Asbuton) adalah salah satu aspal paling berkualitas tinggi dan hanya ada beberapa tempat di dunia yang bisa sedikit menyaingi kualitas maupun ketangguhannya. Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan lantas menegaskan kembali komitmen pemerintah agar Asbuton dapat ditingkatkan produksinya, begitu pula dengan kesinambungannya, agar dapat dimanfaatkan lebih banyak lagi untuk mendukung pembangunan infrastruktur nasional yang saat ini sedang dikejar oleh pemerintah, guna lebih mendorong roda perekonomian masyarakat.  


“Asbuton harus lebih baik dari luar negeri. Asbuton harus ada kepastian antara ketersediaan dan penggunaannya sudah jelas. saya minta Deputi saya Pak Odi pimpin pembahasan lanjutan dan menindak lanjuti ini. Semua pihak agar berkolaborasi, ada waktu satu minggu, 11 November kita bertemu lagi dan sudah ada kesepakatan dan sudah berapa produksinya pada tahun 2021 dan 2022,” ujar Menko Luhut saat memimpin Rapat Koordinasi lintas Kementerian/ Lembaga. Tentang Pemanfaatan Aspal Buton. Dihelat secara virtual, Rabu (04-11-2020). 


Ia menekankan, perihal kepastian produksi secara masif, standardisasi produk, dan juga mengenai kesinambungannya. 


“Pastikan dulu tentang harus bisa produksi. Dan, mengenai standardisasi, saya sepakat sekali, SNI itu keharusan,” tegas Menko Luhut. 


Senada, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono kemudian mengatakan, bahwa pihaknya sangat menghormati komitmen untuk mengurangi importasi aspal minyak sebanyak 500 ton pada tahun 2021. 


“Kalau memang ada produksi pasti akan kami manfaatkan. Pembangunan dan pemeliharaan jalan kami sudah atur semisal untuk aspal plastik, beton dan tentunya untuk Asbuton. Kita wajib pakai ini, ini sebuah keharusan, sebab adalah salah kita sendiri kalau kita tidak bisa menggunakan dengan maksimal Asbuton,” jelasnya. 


Lebih lanjut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menjelaskan langkah-langkah untuk mewujudkan Asbuton, agar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. 


“Kita buat SNI agar campuran Asbuton bisa maksimal, Sesudah tahun 2025 kita kaji lagi dan lakukan eksplorasi tambahan, agar menjadi cadangan, sekaligus mensubstitusi impor,” ujarnya. 


Sementara, Kementerian Dalam Negeri pun turut mendukung dengan kebijakan yang tertuang di dalam Permendagri Nomor 24 Tahun 2020, yang dengan tegas mengatakan dalam rangka menjamin program pembangunan, maka Pemerintah Daerah harus mengutamakan Asbuton.


Asosiasi Asbuton Indonesia (Aspabi), lalu mengungkapkan, bahwa pada tahun 2021 direncanakan akan terbangun Pabrik Pemurnian Asbuton, dan juga SNI untuk Asbuton sudah ada dan tersertifikasi. 


Data Kementerian PUPR menyebutkan, bahwa Kementerian PUPR telah dan sudah menggunakan Asbuton untuk pembangunan dan preservasi jalan. Diatur melalui Permen PUPR Nomor 18 Tahun 2018 tentang penggunaan Asbuton. 


Total deposit Asbuton diperkirakan sebesar 663 juta ton, dan memiliki manfaat antara lain sebagai ; aditif aspal, substitusif aspal, memenuhi kebutuhan aspal nasional lebih dari 100 tahun, dan dapat membuka lapangan kerja lebih luas lagi. 


Pada tahun 2020, penggunaan Asbuton dilaksanakan di 25 Provinsi dengan total 42.871 ton untuk penanganan jalan sepanjang 793 Km, dengan progres mencapai 65,84 persen. 


Aspabi melalui data yang dimilikinya juga menyebutkan, Pabrik Pengolahan Asbuton dengan total kapasitas produksi besar, rencananya akan dibangun di Dumai dan Pekanbaru, bertipe Asbuton Pracampur dengan total kapasitas produksi 40.000 ton. 


Kemudian di Kendari, Donggala dan Buton, bertipe B 5/20 dengan total kapasitas 48.000 ton. Dan, B 50/30, kapasitas produksi 252.000, ada pula bertipe CPHMA, kapasitas produksi 276.000 ton serta tipe Asbuton Full Extract, sebesar 60.500 ton. 


Terakhir, ada di Jakarta, Bogor, Gresik. Mojosari dan Pasuruan, bertipe Pracampur, sebesar 374.000 ton, B 5/20, sebesar 32.000 ton, B 50/30, sebesar 93.000 ton dan bertipe CPHMA, sebesar 208.000 ton. 


*Biro Komunikasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi*


( Dina Tajriyani )