Target Bebas Sampah, Dansektor 21 Satgas Citarum Pelopori Metode TOSS TM-RL

Advertisement


Target Bebas Sampah, Dansektor 21 Satgas Citarum Pelopori Metode TOSS TM-RL

REPORTER
Minggu, 08 September 2019

Target Bebas Sampah, Dansektor 21 Satgas Citarum Pelopori Metode TOSS TM-RL

REPORTER ■ Salah satu upaya untuk menekan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah adalah melalui pengelolaan sampah rumah tangga oleh masyarakat secara mandiri.

Caranya, masyarakat diajak untuk memperhatikan lingkungannya, selain memilih dan memilah sampah yang masih dapat di daur ulang atau di manfaatkan menjadi barang bernilai, juga terhadap sampah yang dianggap sudah tidak bernilai.

“Alhamdulillah, sampah kita relatif bisa tertangani, dibandingkan dengan sektor lain, terutama yang di sekitar kawasan Citarum harum, seperti yang telah di bangun di pesantren Al-Qur'an Al-Falah, RW. 27 Kelurahan Cibeureum Kota Cimahi dan Desa Lengkong yang masuk di wilayah Sektor 21 satgas Citarum harum,” kata Prof. Ir. H Agus Ganda Permana, M.T.

Menurutnya, Produksi sampah di kawasan Sektor 21 wilayah RW. 27 sendiri diperkirakan mencapai sekitar 3 ton/hari. Namun sampah tersebut di program tidak akan dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah, melainkan diolah oleh warga setempat. Sehingga, kami berharap sampah di wilayah ini akan habis terolah yaitu mencapai 3 ton/harinya.

"Adanya Tempat Olah Sampah Setempat Terpadu Mandiri dan Ramah Lingkungan (TOSS TM-RL), turun jumlah sampah  kearah zero waste, hal ini disebabkan makin sadarnya warga terhadap lingkungan. Target bebas sampah atau zero waste merupakan kondisi dimana sampah terkelola dengan baik, dan tidak ada lagi sampah yang tercecer atau berserakan atau tidak terkelola. Dan hal ini dapat terwujud dengan cepat, apabila pemberlakuan Perda Pengolahan Sampah mendatang, mengharuskan setiap usaha seperti restoran dan hotel tidak akan dapat secara langsung membuang sampah ke TPS-TPA," ujar Agus Ganda yang juga sebagai Dosen di Universitas Telkom.

Agus menambahkan, sampah yang dihasilkan harus diolah terlebih dahulu hingga menyisakan sampah yang sudah tidak dapat diolah untuk di olah ke TOSS TM-RL Kawasan Setempat, selanjutnya di olah oleh MOSS Multiguna buatan PT. Megah Ganda Utama yang ditumbuh kembangkan bersama Universitas Telkom dan Dansektor 21 Citarum Harum Kolonel Inf Yusef Sudrajat.

"Sejak dari tempat sampah rumah tangga, kami sudah memilah dan menempatkannya di tempat sampah khusus. Bagi yang bisa dimanfaatkan kami sendiri dan jual ke bank sampah di sini. Yang organik bisa dimasukkan ke tempat sampah model takakura (model  tempat sampah organic Prof. Satori) serta langsung di olah oleh MOS Multiguna. Jadi, nanti bisa jadi pupuk bahkan pakan ternak," jelas Prof Ir H. Agus Ganda Permana.

Tidak hanya itu, sambungnya lagi, sampah harus dibuang sendiri ke TOSS TM-RL dengan menggunakan kendaraan pengangkut sampah masyarakat setempat sendiri, bukan dengan menggunakan truk sampah milik Pemerintah.

Menurutnya, hal itu dilakukan untuk menekan volume sampah, dan jumlah armada truk yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan demikian akan sangat mengurangi beban pemerintah dan mengurangi dampak pencemaran (bau, kesehatan warga), kemacetan lalu lintas serta biaya operasional.

"Semua kembali pada perilaku, dan harapan kami, perilaku masyarakat maupun pendatang dapat ikut menjaga kebersihan lingkungan seperti yang terlihat di beberapa kawasan binaan program Citarum harum kerjasama Dansektor 21, Universitas Telkom dan PT. Megah Ganda Utama, yakni Ponpes Al Falah, RW27 Kelurahan Cibereum Kota Cimahi dan Desa Lengkong," ujarnya.

Sejak beberapa  tahun terakhir, warga melakukan pemilahan sampah, mulai dari sampah organik, non-organik, hingga memisahkan sampah yang masih bisa dimanfaatkan seperti sampah botol, gelas, kemasan plastik, kertas dan kardus.

"Selain dapat menghasilkan uang, sampah plastik, kertas dan karton masih dapat didaur ulang oleh industri yang membutuhkan. Bila warga kreatif, beberapa jenis sampah dari kemasan produk dapat dibuat sebagai barang kerajinan. Disini warga juga ada yang memanfaatkan kemasan plastik produk untuk kerajinan Tas jinjing, kerajinan bunga dan lain lain dari bahan daur ulang. Dari upaya 3R (reduce, reuse, recycle) yang dilakukan warga, setiap harinya volume sampah yang dibuang ke truk pengangkut sampah jauh lebih berkurang dari sebelumnya bahkan tidak perlu lagi truk ke depannya khususnya sampah kawasan," pungkas H. Agus Ganda.

Sementara Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat saat di hubungi melalui selulernya, terkait pembangunan kawasan TOSS TM-RL yang di bangun di beberapa wilayah tugasnya mengatakan, bahwa dirinya hanya berusaha menjalankan perintah Perpres No. 15 tahun 2018 terkait percepatan pemulihan ekosistem yang ada di DAS Citraum.

"Kami Satgas sektor 21 berusaha untuk melaksanakan perintah dari Perpres yang di keluarkan oleh pak Presiden dengan sebaik baiknya, dan kami juga hanya berupaya untuk berbuat guna mempercepat proses pemulihan ekosistem di DAS Citarum, supaya air sungai Citarum dapat kembali layak digunakan kembali oleh masyarakat khususnya warga Jawa Barat," jelas Kolonel Yusep.

Lanjut Kolonel, karena salah satu sumber pencemaran adalah adanya sampah, maka saya mencoba untuk mengatasinya dengan berbagai cara yang salah satunya adalah dengan membangun kawasan tempat olah sampah terpadu yang ramah lingkungan dan dikelola secara mandiri.

Diharapkan dengan adanya kawasan tempat olah sampah tersebut, pencemaran yang di hasilkan dari selain limbah yaitu sampah ke sungai Citarum akan berkurang, dan lingkungan di masyarakat juga lebih terjaga serta kesehatan akan meningkat," pungkas Kolonel Yusep (Dansektor 21 Satgas Citarum) (T.Pro)


Loading...