Film Hayya: Menunjukkan Wajah Islam Yang Ramah

Advertisement


Film Hayya: Menunjukkan Wajah Islam Yang Ramah

REPORTER
Kamis, 26 September 2019

  Film Hayya: Menunjukkan Wajah Islam Yang Ramah

REPORTER ■ Alhamdulillah, dibanding film 212 The Power of Love, film Hayya yang merupakan spin off film tersebut mendapat sambutan yang sangat positif dari pihak bioskop.

Setidaknya tahun ini, pada Kamis tanggal 19 September 2019, insya Allah bioskop yang memutar di hari pertama mencapai 2 kali lipat lebih banyak dari film 212 The Power of Love.

Akan tetapi ini justru menjadi tantangan buat kita, para pendukung film islami, film yang membawa pesan kebaikan, film inspiratif, dan film ramah anak dan keluarga.

Apakah kita bisa memenuhi kepercayaan pihak bioskop, dengan memenuhi kursi yang disediakan?

Jika kursi-kursi itu kosong di hari pertama, Kamis 19 September 2019, tidak mustahil film Indonesia pertama yang shooting di Palestina ini kandas di hari pertama.

Karena itu kami yang sedang memperjuangkan jihad melalui budaya, sangat membutuhkan dukungan dan sokongan dari para ustadz, ulama, majelis taklim, para orang tua, mahasiswa, remaja, dan anak-anak muslim untuk ikut mensukseskan film ini.

Dan semoga dukungan itu dinilai Allah sebagai ibadah, sebagai bagian dari jihad budaya yang menyebarkan nilai islam dengan cara yang membumi dan ramah.

Bagaimana cara mendukung film ini?

1. Bantu men-share di social media tentang film ini, termasuk menyebarkan informasi bioskop dalam pesan ini (terima kasih), selfie dengan tiket atau gimmick, dll.

2. Menjadikan film ini sebagai bahan obrolan, ceramah, dan tausiyah.

3. Menonton di hari pertama (tanggal 19.9.19) bersama teman atau  keluarga. (jika tidak sempat mungkin di hari kedua atau ketiga). Kenapa? Karena basanya jika di hari pertama kedua sepi film diturunkan di hari ketiga.

3. Merekomendasikan ke teman atau keluarga untuk menonton, dan ikut meramaikan di social media.

Sebagai pembuat film, kami insya Allah kami berusaha menyajikan sebuah tontonan yang inspiratif, menghibur, dan berkesan. Acting youtuber Ria Ricis sangat tampil total lucu menghibur.

Kehadiran penulis Asma Nadia dan Ustadz Erick Yusuf memberi warna. Hubungan bromance Rahmat (Fauzi Baadila) dan Adin (Adhin Abdul Hakim) yang seru. Acting Hamas Syahid, Meida Sefira, dan Abah memberikan nilai tambah.

Dan tak kalah penting, munculnya pemain cilik baru Amna Hasana Sahab yang berperan sebagai Hayya anak Palestina, actingnya memukau (Setidaknya itu yang kami dengar dari testimoni yang sudah menonton di premier).

Akan tetapi untuk menjadi sebuah film sukses di pasaran, semua tergantung pada dukungan kita semua yang peduli pada tontonan bermutu dan bernilai ibadah.

Lalu bagaimana yang belum menonton film 212 The Power of Love? Apakah nyambung ketika nonton Hayya?

Jangan khawatir. Hayya adalah spin off (ceritanya terpisah), bukan sequel (kelanjutan) artinya tanpa menonton film 212 The Power of Love sekalipun, kita akan tetap  nyambung dengan cerita.

Jika pada 212 The Power of Love dikisahkan tentang Rahmat wartawan yang apatis terhadap Islam, justru menemukan hidayah saat meliput aksi 212, maka film Hayya berkisah tentang Rahmat yang sudah insyaf menjadi relawan kemanusiaan di Palestina (Tidak ada hubungannya dengan kisah sebelumnya).

Di Palestina ia bertemu dengan gadis kecil Palestina bernama Hayya yang kedua orangtuanya tewas dibunuh Zionis.

Sejak bertemu Hayya hidup Rahmat tercurahkan untuk Hayya, sehingga terlibat pada masalah yang lebih besar yang bisa menghancurkan masa depannya. Bersama Hayya berarti terlibat masalah, berpisah dengan Hayya bukan solusi yang dipilih Rahmat. Lalu bagaimana ia harus memilih? Saksikan kisahnya

Loading...