Hadapi Musim Kemarau, Petani Di Cimahi Beralih Tanam Palawija

Advertisement


Hadapi Musim Kemarau, Petani Di Cimahi Beralih Tanam Palawija

REPORTER
Kamis, 18 Juli 2019

 Hadapi Musim Kemarau, Petani Di Cimahi Beralih Tanam Palawija

INFONEWS.CO.IDMemasuki dua bulan kemarau, para petani di Kampung Pasir Kiara,  Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi mulai mengkonversi budi dayanya melalui menanam Sayuran.

Perubahan jenis tanaman itu tak lepas dari mengeringnya lahan akibat kemarau.

Jika semula lahan seluas 15 hektare itu ditanami padi, maka selepas sawah itu kering karena tak tersentuh air, petani mulai merencanakan penanaman sayuran seperti tanaman palawija.

Seperti yang terpantau pada Selasa (16/7/2019), lahan sawah Pasir Kiara yang nampak kering mulai dipersiapkan untuk ditanami sayuran, bahkan, sebagian lahannya sudah beralih ditanami sayuran brokoli.

“Iya informasinya mau ditanam sayuran. Soalnya kan kemaraunya lama,” ujar Darwita (55) seorang petani yang mengeluh takut lahannya gagal panen karena kekeringan.

Mengulas fakta sebelumnya, sawah di Kampung Pasir Kiara sudah mengalami kekeringan sejak dua bulan lalu. Saat kemarau datang, kondisi padi tengah dalam kondisi hijau. Memasuki pertengahan Juni lalu, para petani mulai memanen padinya secara dini karena khawatir gagal panen.

Saat itu, hanya 10 hektare yang bisa dipanen petani sebab 5 hektare sisanya masih hijau. Panen dimulai sejak pekan lalu. “Nah, sekarang ini lagi dipanen sisa yang dulu belum sempat dipanen,” tutur Darwita.

Panen di lahan tersisa ini terpaksa dilakukan para petani karena khawatir padinya tidak terselamatkan.

Apalagi, musim kemarau diprediksi akan berlangsung lama, sehingga kecil kemungkinan sawah di Pasir Kiara akan teraliri air.

“Sebetulnya belum saatnya panen, bisa dibilang panen dini. Tapi daripada tidak selamat padinya,” ujar Darwita

Dari total luas lahan 5 hektre itupun, lanjut Darwita, tidak semuanya bisa diubah dari padi menjadi beras nantinya.

Dikatakan Darwita, hanya ada sekitar 2,5 padi yang bisa diselamatkan. “Jadi masih ada padi yang memang gak bisa jadi beras, warnanya masih hijau, tumbuhnya masih lurus, kalau yang benar panen kan yang menguning dan melengkung ke bawah,” jelasnya

Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Cimahi Utara, Rani Kurniati mengatakan, untuk mengisi lahan pertanian dimusim kemarau ini, para petani mulai beralih ke tanaman sayuran.

“Rencananya akan ditanam palawija, yaitu ubi jalar,” ucapnya

Sawah di Pasri Kiara sendiri mendapat pasokan air dari daerah irigasi Cijanggel, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sejak sekitar dua bulan lalu sawah di sana tidak teraliri air.

Kondisi daerah irigasi Cijanggel terbilang parah. Airnya sudah tidak mengalir sejak dari hulu, dan kerap terjadi setiap tahun. Selain karena kemarau, banyaknya pipa milik oknum dari berbagai pihak pun disinyalir menjadi penyebab menyusutnya air ke irigasi Cijanggel.

“Kalau dulu itu airnya subur dari Cijanggel, kita sudah cek ke sana,” tuturnya

Semenara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung, Tony Wijaya menerangkan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus sampai September dengan karakteristik suhu udara dingin dan kering.

“Untuk Jawa Barat, periode musim kemarau datang pada bulan Juni dengan terlebih dahulu  masuk di wilayah sekitar pantura, kemudian bergerak ke arah selatan,” jelas Tony

Loading...